Menu Click to open Menus
Home » 28 » Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power

(402 Views) July 16, 2019 6:55 pm | Published by | Comments Off on Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

Hukum 2

NEVER PUT TOO MUCH TRUST IN FRIENDS, LEARN HOW TO USE ENEMIES.
JANGAN TERLALU BANYAK MENARUH KEPERCAYAAN PADA TEMAN, PELAJARI CARA MENGGUNAKAN MUSUH.

Judgement / Pertimbangan.

Waspadalah terhadap teman. Mereka akan mengkhianati Anda dengan lebih cepat karena mereka mudah untuk cemburu atau iri hati. Mereka juga menjadi manja dan kejam. Tetapi pekerjakanlah seorang mantan musuh dan dia akan lebih setia daripada seorang teman, karena dia punya lebih banyak untuk dibuktikan. Faktanya, Anda harus lebih takut pada seorang teman ketimbang musuh. Jika Anda tidak punya musuh, cari cara untuk membuat mereka.

TRANSGRESSION OF THE LAW/ PELANGGARAN HUKUM

Pada pertengahan abad ke 9 sesudah masehi, seorang anak muda bernama Michael III ditakhtakan sebagai Kaisar Bizantium. Ibunya Theodora dibuang ke biara dan kekasih ibunya Theoctistus dibunuh. Sebenarnya, konspirasi ini dibuat oleh pamannya, Bardas, seorang yang cerdas dan penuh ambisi.

Michael III dari Bizantium

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

Michael saat itu masih sangat muda, dan tidak berpengalaman sebagai pemimpin. Dia dikelilingi oleh para penipu, pembunuh dan pemboros kekayaan.

Pada saat – saat berbahaya seperti ini, dia membutuhkan seseorang yang bisa dia percaya sebagai penasehat. Saat itu pikirannya tertuju pada Basilius, sahabat karibnya. Basilius sendiri tidak memiliki pengalaman dalam pemerintahan maupun politik.

Faktanya, dia adalah kepala penjaga kuda kerajaan. Akan tetapi, dia telah menunjukkan cinta dan rasa terimakasihnya yang banyak kepada sang kaisar muda itu.

Sebenarnya cerita persahabatan Basilius dan Michael III ini dimulai ketika Michael III mengunjungi kandang kuda kerajaan. Pada saat itu, seekor kuda liar terlepas dan membahayakan sang kaisar muda itu. Akan tetapi, dengan tangkas, Basilius menyelamatkan Michael dari maut. Itulah yang membuat Michael III kagum akan Basilius.

Kemudian sang kaisar mengangkat dia  dari posisinya sebagai seorang pelatih kuda semata menjadi seorang kepala kandang kuda kerajaan. Sang kaisar pun memberikan dia banyak hadiah dan kemudahan termasuk menyekolahkan Basilius ke sekolah terbaik di Bizantium. Dengan semua kemudahan yang diterima, Basilius pun tumbuh menjadi seorang bagian dari keluarga kerajaan yang boros, hanya ingin yang enak saja dan manja.

Akan tetapi, seperti yang tadi telah aku katakan, Michael yang saat itu adalah seorang kaisar, membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya dan loyal. Siapa yang paling dia percaya sebagai seorang bendahara dan ketua penasihat sang kaisar?  Tentunya, tidak lain dan tidak bukan, sahabat karibnya Basilius.

Michael III dan Basilius di Bizantium

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

“Basilius bisa dilatih untuk bisa terkualifikasi,” pikir Michael. Lagi pula, Michael sangat mencintai dia layaknya seorang saudara kandung.

Dengan pemikiran seperti itu akhirnya dia mengabaikan anjuran banyak orang yang mengunggulkan pamannya Bardas yang sangat terkualifikasi dalam melakukan pekerjaan itu. Michael tetap memilih Basilius sebagai sosok yang paling cocok dengan tanggung jawab yang besar itu.

Basilius belajar dengan begitu cepat dan sangat pandai. Dalam waktu yang singkat, dia menasihati sang kaisar akan berbagai urusan pemerintahan.

Akan tetapi, satu – satunya masalah yang Basilius punya adalah uang. Basilius tidak pernah merasa berkecukupan. Kehidupannya di lingkungan istana membuat dia menjadi tamak akan kekuasaan. Michael naikkan gajinya menjadi 2x lebih besar, tiga kali lebih besar bahkan meninggikan derajatnya dan mengawinkan dia dengan salah satu kekasihnya, Eudoxia Ingerina.

Bagi Michael, membuat sahabat kepercayaannya nyaman lebih berharga daripada segalanya di muka bumi ini.

Akan tetapi, Basilius masih tetap saja tidak puas dengan berbagai kemudahan yang ada. Dia ingin sesuatu yang lebih.

Kebetulan saat itu, yang menjadi kepala pasukan kekaisaran adalah Bardas, paman Michael. Bagi Basilius, ini akan membahayakan keberadaannya suatu saat. Maka, Basilius yang adalah seorang kepala penasihat kaisar, meyakinkan Michael bahwa, pamannya adalah orang yang sangat berambisi. Dan kali ini, pamannya berambisi untuk menghabisi Michael dan menggantikannya sebagai sang kaisar. Yakin akan hal itu, Michael mengijinkan Basilius untuk membunuh pamannya dalam sebuah pacuan kuda.

Bardas di bunuh oleh basilius bizantium

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

Segera sesudah Bardas dibunuh, Basilius meminta Michael untuk menjadi kepala pasukan kekaisaran dengan alasan untuk mengontrol dan menumpaskan berbagai pemberontakkan dalam wilayah kekuasaan kekaisaran. Tentunya ini direstui oleh sang Kaisar.

Sekarang, Basilius makin berkuasa dan makin kaya. Beberapa tahun kemudian, ketika Michael meminta kembali uang yang telah dia pinjam, Basilius menolak dan memandangnya dengan penuh hina. Saat itulah, sang Kaisar sadar akan bahaya yang sedang dia hadapi. Dia sadar akan kesalahan besar yang telah dilakukannya. Dia telah membesarkan seorang monster yang segera akan berbalik memusnahi dia. Sekarang, Basilius telah kuat posisinya, kaya hartanya, punya lebih banyak tentara dan cabinet pendukung dan tentunya lebih berkuasa ketimbang Michael, sang kaisar.

Dan tidak disangka – sangkanya, suatu malam sesudah Michael tersadar dari pesta poranya, dia menyaksikan sepasukan tentara yang berdiri mengelilinginya. Dia ditikam dengan tombak sampai mati. Dia tidak pernah menyangka kalau suatu saat kepalanya akan tertancap diujung tombak sahabatnya sendiri.

Sesudah Michael dibunuh, Basilius pun menobatkan dirinya sebagai kaisar Bizantium yang terbaru. Yang powerful dan sangat berkuasa.

Lord, protect me from my friends; I can take care of my enemies (Voltaire, 1694 – 1778).

Observance of the Law / kepatuhan pada hukum.

Beberapa abad sejak jatuhnya Dinasty Han (tahun 222), sejarah Cina selalu mengikuti pola kudeta yang sama.

Para tentara akan membunuh kaisar yang lemah dan menggantikannya dengan seorang jenderal yang kuat. Namun setelah sang jenderal diangkat menjadi seorang kaisar, dia akan membunuh semua jenderal yang ada. Sesudah beberapa tahun kemudian, pola yang sama akan kembali terjadi. Jendral – Jendral baru akan bangkit dan membunuh sang kaisar dan putra – putranya.

Menjadi kaisar Cina berarti menjadi seorang penyendiri dikelilingi oleh banyak musuh. Menjadi kaisar cina berarti menjadi yang paling lemah. Memiliki posisi sebagai kaisar berarti memiliki posisi yang paling tidak aman.

Pada tahun 959, Jendral Chao K’uang-yin menjadi Kaisar Sung. Dia tahu akan hal itu. Dia tahu bahwa dalam satu atau dua tahun ke depan, dia akan dibunuh dan tergantikan. “Bagaimana cara dia mematahkan pola yang ada?” Dia berpikir.

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

Maka ketika dia diangkat menjadi kaisar, dia membuat sebuah perjamuan besar untuk merayakan dinasti yang baru didirikannya. Dia mengundang semua kepala pasukan yang paling kuat untuk hadir.

Sesudah mereka mabuk anggur, dia menyuruh para pengawal jendral untuk pergi beserta semua orang lainnya kecuali para kepala pasukan atau jendral – jendral tersebut.

Para jendral tersebut sekarang menjadi sangat takut bahwa dia akan membunuh mereka dengan hanya sebuah pukulan saja. Tapi ketimbang melakukan itu, dia mengatakan ini kepada mereka. “Sepanjang hari saya lalui dengan penuh ketakutan. saya merasa tidak bahagia berada baik di meja perjamuan maupun di atas tempat tidur. Karena siapa di antara kalian tidak ada yang menginginkan kursi kekaisaran? Aku pastinya tidak meragukan kesetiaanmu, tetapi jika secara kebetulan, seorang anak buahmu, yang sedang mencari kekayaan dan posisi, membunuh sang kaisar dan memberikan jubahnya kepada mu, bagaimana anda bisa menolak itu?”

Takut akan dibunuh para jendral itu menyatakan mereka tidak tahu menahu akan hal itu dan akan selalu loyal pada sang kaisar. Akan tetapi, Kaisar Sung punya ide lain. Dia mengatakan, “Cara terbaik untuk melewati keseharian seseorang adalah dengan menikmati kedamaian dan kehormatan. Jika anda ingin menyerahkan posisimu sebagai jendral, aku akan bersedia untuk menyediakanmu dengan tanah terbaik dan tempat tinggal terindah yang mana anda bisa bersenang senang dengan para penyanyi dan cewek – cewek cantik sebagai penghiburmu.”

“Wow siapa yang menolak,” pikir para jendral tersebut. Pada hari berikutnya, para jendral mengajukan pengunduran diri mereka dan pensiun sebagai orang – orang terhormat di tanah terbaik yang diberikan sang kaisar.”

Hanya dengan satu hentakan saja, sang kaisar mengubah para serigala berbulu domba menjadi domba terkontrol jauh dari ketamakan akan kekuasaan.

Setelah itu, sang kaisar tentunya memerintah dengan aman. Pada tahun 971, pemberontakan Raja Liu dibagian selatan Han pun ditumpaskan. Akan tetapi, ketimbang membunuhnya, sang kaisar memberikan raja liu posisi yang tinggi di pengadilan kekaisaran. Ini tentunya membuat raja liu kaget dan tidak percaya. Dan sekali lagi hanya dengan satu hentakan saja, seorang raja yang penuh dengan kebencian akan sang kaisar diubah menjadi seorang teman dan pengikut yang paling loyal sejak itu.

Begitu juga dengan Raja Ch’ien Shu yang berkonspirasi untuk membunuh sang raja. Ketahuan akan hal itu, sang raja pun diundang ke istana sang kaisar. Akan tetapi, ketimbang si raja ini dibunuh atau dipenjarakan, dia dihormati oleh sang kaisar. Sesudah mengikuti perjamuan bersama, sang kaisar memberikan dia sebuah hadiah dengan pesan bahwa hadiah itu hanya bisa dibuka dalam perjalanan pulang ke istananya. Raja Ch’ien Shu kemudian membuka hadiah itu dan dia kaget aka isi hadiah tersebut. Ternyata hadiah itu berisi dokumen rencana konspirasinya untuk membunuh sang kaisar. Sekali lagi kebaikan ini, kemudian mengubah dia lagi menjadi salah seorang pengikut sang kaisar yang paling loyal.

Interpretasi.

Sebuah ungkapan cina membandingkan teman dengan rahang dan gigi seekor hewan yang paling berbahaya: Jika kamu tidak hati – hati, mereka akan memakan anda hidup – hidup. Kaisar Sung mengetahui ini ketika dia diangkat menjadi kaisar. Maka sang kaisar tentunya ingin menghindari hal itu. Akan tetapi, pendekatan sang kaisar sangatlah cerdas. Dia memberikan teman – teman jendral nya tanah terbaik dan menjauhkan mereka dari berbagai urusan kekuasaan. “Ini lebih cerdas dan lebih baik daripada membunuh mereka yang mana hanya akan menimbulkan para jendral lain marah dan membalas dendam suatu waktu”, pikirnya

Serigala berbulu domba

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

Ketimbang bergantung pada teman, Kaisar Sung menggunakan musuh – musuhnya dan mengubah mereka menjadi orang yang lebih dipercaya.

Seorang teman atau sahabat selalu mengharapkan yang lebih banyak kebaikan dan mudah cemburu atau iri. Akan tetapi, seorang musuh tidak mengharapkan apa – apa. Tetapi jika mendapatkan segala yang dibutuhkan, dia pasti lebih banyak berterimakasih secara jangka panjang.

Sesudah dengan penuh cerdasnya, Kaisar Sung mematahkan pola kudeta, kekerasan dan perang bersaudara yang ada, Dinasti Sung akhirnya memerintah Cina selama lebih dari 300 tahun.

KEYS TO POWER/ KUNCI KEKUASAAN

Secara alamiah, kita tentunya merasa lebih aman mempekerjakan seorang teman. Apalagi di saat – saat yang sulit. Siapa yang mau mempercayai seorang asing di saat itu?

Akan tetapi, yang menjadi masalahnya adalah terkadang kita tidak tahu dengan dalam, siapa teman kita yang sebenarnya. Terkadang pertemanan itu penuh kebohongan. Mereka tertawa dengan anda atas leluconmu, mereka sering setuju dengan idemu untuk menghindari argument, menutup kualitas diri mereka supaya anda tidak tersinggung, menyukai selera music, puisi dan pakaianmu. Terkadang mereka memang melakukannya dengan tulus tapi, sering tidak.

Ketika anda memutuskan untuk mempekerjakan seorang teman, saat itulah anda tahu dengan jelas siapa dia sebenarnya. Dan jangan heran, terkadang bentuk kebaikanmu  terhadap si teman itu yang membuat segalanya tidak seimbang.

Seperti yang tadi udah aku katakan, sering teman mengharapkan lebih. Mereka pikir bahwa mereka pantas menerima segala yang anda dapatkan. Maka biasanya mereka mulai marah, cemburu, iri dan tanpa anda ketahui pertemanan kalian mulai sirna. Semakin banyak kebaikan dan hadiah yang kamu kasih untuk menghidupkan pertemanan anda kembali, semakin sedikit rasa terimakasih yang anda terima.

Jika anda tidak pernah mengharapkan ucapan terimakasih dari seorang teman, anda akan kaget dan bahagia jika mereka mengungkapkannya.

Masalah dari mempekerjakan atau menggunakan teman adalah itu akan membatasi pergerakkanmu. Pada akhirnya, memiliki skill dan kompetensi lebih penting daripada pertemanan belaka.

Dan Ingat! Setiap situasi kerja membutuhkan sebuah jarak antar orang. Dalam lingkungan kerja, Anda mau kerja bukan mencari pertemanan. Pertemanan entah itu ikhlas atau palsu akan mengaburkan kenyataan.

Keep friends for friendship, but work with the skilled and competent.

Musuhmu, sebaliknya, seperti tambang emas yang belum pernah disentuh. Sebaiknya anda belajar menggunakan mereka.

Abraham Lincoln pernah berkata, “Anda memusnahkan seorang musuh ketika anda membuat dia seorang teman.”

Akan tetapi, selain pelajaran di atas, sang penulis juga meminta kita untuk belajar cara menggunakan musuh dengan cara lain sesuai kondisi yang ada.

Dan ini adalah salah satu pelajaran yang perlu kita perhatikan juga. Bahwa sering jika kita tidak memiliki musuh, kita tumbuh menjadi orang yang malas atau mager menurut istilah anak zaman sekarang. Dengan memiliki musuh atau mungkin kompetitor, kita semakin rajin dan membuat kita selalu focus dan waspada. Maka terkadang bagus juga, untuk menggunakan musuh sebagai musuh ketimbang mengubah mereka menjadi teman atau allies.

Without enemies around us, we grow lazy. An enemy at our heels sharpens our wits, keeping us focused and alert. It is sometimes better then, to use enemies as enemies rather than transforming them into friends or allies.

Ini terjadi pada tahun 1937 yang mana orang – orang jepang mulai menjajah cina. Mao seorang pemimpin komunis menggunakan jepang sebagai lawan tandingnya supaya bisa mengalahkan kelompok nasionalis di Cina.

Bagi dia, Jepang tidak akan terlalu kuat untuk menguasai negeri Cina yang begitu besar. Akan tetapi, para nasionalis memiliki potensi. Maka, dia mengatakan mari kita perangi orang – orang jepang. Kita jadikan ini sebagai latihan atas perang kita melawan nasionalis nanti. Dan dia benar. Ketika jepang keluar dari Cina, Mao dan para tentaranya telah belajar banyak tentang cara berperang. Dan pada akhirnya, mereka bisa kalahkan para nasionalis dengan mudah.

Beberapa tahun kemudian, seorang jepang meminta maaf kepada Mao atas jajahannya di Cina sebelumnya. Mao mengatakan, “Bukankah saya yang seharusnya berterimakasih? Tanpa lawan yang kuat seperti jepang, seseorang atau sebuah grup tidak akan tumbuh menjadi lebih kuat.”

Ini beberapa strategi Mao yang ingin aku bagikan:

  1. Dalam menjadikan seseorang lawan tandingmu, anda harus yakin, anda akan menang dalam jangka waktu yang panjang. Jangan memilih lawan tanding yang anda tidak yakin akan menang.
  2. Jika anda tidak punya lawan yang kelihatan, anda juga sebaiknya membuat seseorang musuh bahkan termasuk mengubah teman musuhmu.
  3. Gunakan musuhmu untuk mendefinisikan penyebab aksimu secara jelas ke public termasuk menggambarkan itu sebagai perjuangan antara yang baik melawan yang jahat.

Never let the presence of enemies upset or distress you. You are far better off with a declared opponent or two than not knowing where your real enemies lie. The man of power welcomes conflict, using enemies to enhance his reputation as a surefooted fighter who can be relied upon in times of uncertainty.

Jangan pernah membiarkan kehadiran musuh membuat Anda sedih atau tertekan. Anda jauh lebih baik dengan satu atau dua lawan yang dinyatakan atau benar – benar ketahuan di mana mereka berada daripada tidak tahu di mana musuh Anda yang sebenarnya berada. artinya anda tidak tahu di mana dia bersembunyi. Orang yang berkuasa menyambut konflik dan menggunakan musuh untuk meningkatkan reputasinya sebagai pejuang yang dapat diandalkan pada saat-saat yang tidak pasti.

 

Reversal / kebalikan

Meskipun secara umum, sebaiknya tidak boleh mencampuradukkan kerja dengan pertemanan, terkadang seorang teman bisa digunakan dengan lebih efektif daripada seorang musuh. Ini biasa terjadi ketika seorang yang berkuasa ingin melakukan pekerjaan kotor. Biasanya supaya tidak ketahuan, dia menginginkan pekerjaan itu dilakukan oleh orang lain. Dan biasanya teman melakukannya dengan lebih baik. Karena kedekatan mereka membuat dia mau untuk melakukannya. Dan kalaupun rencananya tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan, toh, yang dituduh adalah teman baiknya. Dan ini biasanya cocok karena public pasti tidak akan percaya kalau dia mudah mencampakkan temannya seperti itu. Ini biasanya dilakukan oleh para raja, ratu, atau para politisi besar lainnya.

Akhirnya, bekerja dengan teman selalu membingungkan batas dan jarak keprofesionalitasan. Akan tetapi, jika kedua pihak memahami hal ini maka sering teman juga bisa menjadi partner yang hebat.

Namun, anda harus selalu sadar akan tanda – tanda perasaan yang kurang efektif seperti kecemburuan dan perasaan tidak tahu berterimakasih.

Karena jika itu terjadi, seorang teman paling dekat pun bisa berubah menjadi seorang musuh yang paling mematikan.

 

So, once again, never put too much trust in friends. Learn how to use enemies.

Dan sebelum aku menutup pembelajaran kita di video kali ini, aku punya beberapa pertanyaan untuk meningkatkan pemahaman Anda.

  1. Pelajaran apa saja yang telah kalian dapatkan dari video kali ini?
  2. Apakah kalian pernah mengalami satu atau beberapa kejadian yang menggambarkan pelanggaran atau kepatuhan akan hukum ini?

Bagikan jawabanmu di kolom komentar di bawah ini.

Dan begitu saja untuk hari ini, aku Bonefasius Falo, sampai jumpa di bagian ketiga dari the 48 laws of power. Take care.

Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power.

Categorised in:

Comment Closed: Hukum 2 dari Buku The 48 Laws of Power

Sorry, comment are closed for this post.

error: Content is protected !!