Menu Click to open Menus
Home » 33 » Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power

Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power

(339 Views) July 24, 2019 4:02 pm | Published by | Comments Off on Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power

Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power: 

Conceal your intentions / Sembunyikan niat – niatmu.

Keterangan Video Artikel Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power : Sahabat bisa menonton semuanya secara lengkap di video di atas.

Judgement/ Pertimbangan

Buat orang bingung dan berada di dalam kebimbangan dengan cara tidak mengungkapkan tujuan di balik tindakanmu. Jika mereka tidak punya petunjuk akan apa yang anda lakukan, mereka tidak akan menyiapkan pembelaan diri. Bimbing mereka cukup jauh ke jalan yang salah, selimuti mereka dengan kebimbangan yang cukup pekat, maka pada saat mereka sadar akan niatmu, segalanya udah terlambat.

 

Bagian pertama: Gunakan umpan dan kesesatan logika/ relevansi untuk mengelabui mereka.

Jika orang sampai curiga akan niat pengelabuanmu, maka semua rencana mu berantakan dan anda tidak akan mencapai hasil yang diinginkan. Jangan beri mereka kesempatan untuk mencurigai apa yang sedang anda lakukan. Gunakan kesesatan relevansi untuk mengaburkan niat anda. Gunakan ketulusan palsu, kirim tanda yang ambigu dan menyesatkan. Saat mereka tidak mampu membedakan mana yang tulus dari yang palsu, mereka tidak akan pernah mengetahui tujuan di balik tindakan anda.

 

TRANSGRESSION OF THE LAW/ PELANGGARAN HUKUM

Selama beberapa minggu, Ninon de Lenclos, seorang pelacur (untuk orang kaya dan kelas atas), mendengarkan dengan penuh perhatian cerita Marquis de Sevigne tentang perjuangannya dalam mendapatkan hati seorang putri bangsawan yang sangat cantik jelita namun susah untuk ditaklukkan hatinya. Si Marquis ini udah berusaha sekuat tenaga tapi, dia tidak pernah digubris sang Putri.

Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power Ninon de Lenclos

Keterangan Foto Artikel Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power : Ninon de Lenclos

Si Ninon yg berusia 62 tahun waktu itu, sangat terkenal dalam menaklukkan hati orang – orang hebat ketika masih muda. Dia tahu bagaimana cara mendapatkan hati mereka dengan sangat mudah.

Karena tahu akan hal itu si Marquis pergi ke dia untuk meminta nasehatnya bagaimana dia bisa menaklukkan hati sang Putri.

Marquis de Sevigne

Keterangan Foto Artikel Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power : Marquis de Sevigne.

Bosan karena diminta terus, akhirnya Ninon mau membimbing Marquis untuk mendapatkan hati sang putri yang cantik jelita itu. Akan tetapi, kata Ninon, untuk menaklukkan hati sang Putri, Marquis harus tahu bahwa ini seperti layaknya berperang. Setiap langkah yang diambil harus direncanakan sedetil mungkin dan dijalankan dengan penuh hati – hati dan detail.

Setelah semuanya direncanakan dengan matang, Ninon mulai membimbing Marquis. Ninon mengatakan bahwa dia harus melakukan pdkt dengan sang putri dengan cara menjaga jarak. Dia seolah – olah mengabaikan sang putri. Dan ketika mereka berdua sendirian, dia harus bercerita layaknya seorang teman, bukan seorang pemabok cinta. Ini akan mengaburkan sang putri akan niat Marquis. Sang putri akan berpikir bahwa Marquis hanya tertarik untuk menjadikannya sebagai seorang teman saja. Tidak lebih dari situ.

Dan suatu saat nanti ketika sang putri bingung akan pdkt si Marquis, langkah berikutnya adalah Marquis harus membuat sang Putri cemburu. Setiap kali berpapasan dengan sang putri, Marquis harus selalu didampingi oleh seorang gadis yang cantik jelita di sampingnya. Dan beruntungnya Marquis bahwa cewek yang tadi dibawanya punya banyak teman cewek yang cantik jelita juga. Jadi, Marquis bisa membawa mereka satu per satu setiap kali untuk membuat sang putri cemburu.

Sang Putri Cantik Jelita yang disukai Marquis de Sevigne

Keterangan Foto Artikel Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power : Putri yang disukai Marquis de Sevigne.

Ninon mengatakan, bahwa seorang cewek yang tertarik akan seorang cowok ingin melihat dan ingin tahu bahwa cewek – cewek cantik lainnya juga tertarik untuk mendapatkan dia. Jadi, dengan sendirinya si cewek akan merasa bahwa cowok yang ditaksirnya layak untuk direbut dan dimiliki.

Hal ini lah yang sedang dilakukan Marquis saat itu.

Dan sesuai nasehat Ninon bahwa suatu saat ketika sang putri udah cemburu dan menginginkan Marquis, Marquis harus sering absen dari hadapan sang Putri. Dia harus absen atau tidak hadir di acara – acara yang mana sang Putri yakin bahwa Marquis akan datang. Dan sesudah itu, tiba – tiba Marquis nanti akan muncul di salon – salon yang tidak pernah dia kunjungi tetapi sang putri sering berada di sana.

Dengan ini, dia akan susah memprediksi gerakkannya. Ini akan membuat dia makin bingung dan bahkan semakin membuat dia kangen dan salah tingkah.

Semua rencana Ninon dijalankan dengan penuh detail dan berjalan dengan lancar. Berdasarkan informasi dari mata – mata Ninon, dia mengetahui bahwa sang putri sering tertawa lebih keras akan leluconnya, mendengarkan dengan lebih dekat cerita Marquis. Bahkan tidak hanya sampai di situ, sang putri sering menatap Marquis lama dan mengikuti langkah – langkahnya. Sang Putri juga sering menanyakan keberadaan Marquis.

Ninon yakin bahwa sang putri udah jatuh cinta dengan Marquis. Dan mungkin dalam hitungan minggu atau sebulan dua bulan, sang putri akan jatuh ke tangan Marquis.

Akan tetapi, nafsu tak tertahan. Beberapa hari kemudian ketika Marquis berada di istana sang Putri, Marquis kehilangan aktingnya. Dia tidak lagi mengikuti nasihat Ninon. Dia mengikuti hasratnya sendiri dan mengungkapkan isi hatinya kepada sang putri bahwa dia jatuh cinta dengan sang putri.

Sang putri yang saat itu masih belum mabok cinta sepenuhnya, meminta izin dan pergi meninggalkan dia. Sejak saat itu, sang putri tidak lagi melakukan kontak mata dengan Marquis, dan tidak lagi mengatakan selamat tidur kepada Marquis seperti biasanya.

Beberapa kali ketika dia mengunjungi sang putri, para dayangnya mengatakan bahwa dia tidak ada di rumah. Padahal sang putri ada di sana. Sang putri telah tahu permainannya dan tidak mau jatuh ke dalam permainan itu. Sang Putri telah merasa digunakan dan tidak mau digunakan untuk kali berikutnya. Dan pastinya, Goodbye Marquis.

 

OBSERVANCE OF THE LAW

Pada tahun 1850, Otto von Bismarck seorang anggota parlemen muda negara Prussia berada pada puncak karirnya. Pada waktu itu, masalah – masalah yang sedang terjadi adalah satu Penyatuan banyak negara termasuk Prussia yg mana kemudian German terbagi dan dua perencanaan peperangan melawan Austria yang sangat kuat, yang menginginkan German lemah dan dalam konflik.

Pangeran William yang menjadi Putra Mahkota beserta parlemen Prussia menginginkan perang. Mereka menyiapkan tentara Prussia untuk siap perang. Akan tetapi, ternyata di Prussia sendiri ada juga yang tidak menginginkan perang. Siapakah mereka? Ternyata Sang Raja Prussia sendiri, Frederick William IV dan menteri – menterinya. Mereka ingin menyelesaikan semuanya dengan jalur negosiasi.

Raja Frederick William IV, Raja Prussia

Keterangan Foto Artikel Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power : Raja Prussia Frederick William IV.

Otto von Bismarck sendiri sebenarnya menginginkan perang. Dia bermimpi untuk menyatukan German dan berperang melawan Austria. Dia ingin menghina Austria karena Austria telah lama membuat German terbagi. Dia yang kemudian terkenal dengan kata – katanya, “The great questions of the time will be decided, not by speeches and resolutions, but by iron and blood”. Pertanyaan akan waktu akan diputuskan, bukan dengan pidato dan resolusi, melainkan dengan besi dan darah.

Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power

Keterangan Foto Artikel Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power : Foto Otto von Bismarck.

Akan tetapi, karena saat itu sang Raja memilih untuk tidak berperang, maka akan lebih bagus untuk mendukung keputusan rajanya ketimbang memilih yang lain. Karena itu, di tengah – tengah demam perang yang sedang berlangsung, si Bismarck memberikan sebuah pidato yang berisi seperti ini. “Terkutuklah negarawan yang berperang tanpa alasan. Sesudah perang, anda akan melihat semua pertanyaan ini dengan berbeda. Apakah nanti Anda punya keberanian untuk memandang petani yang sedang menatapi abu ladangnya, ke orang yang telah lumpuh karena kehilangan bagian badannya, ke seorang ayah yang telah kehilangan anak – anaknya?”

Dalam pidatonya itu, Bismarck tidak hanya berbicara tentang akibat masif dari perang tetapi, memuji dan membela Austria atas segala yang dilakukannya. Ini tentunya berlawanan dengan segala yang dia dukung selama ini. (Karena seperti yang tadi udah aku katakana bahwa dia mendukung perang dan ingin memerangi Austria).

Bagi para deputi saat itu, pidato Bismarck sangat aneh dan membingungkan. Kok dia bisa mendukung Austria dan berpidato untuk tidak memerangi Austria? Hmmm ada apa dibalik semuanya itu.

Akan tetapi terlepas dari semua itu, dengan pidatonya, banyak deputi beralih dari mendukung perang menjadi tidak mendukung perang. Pada akhirnya dari voting atau pemilihan yang ada, sang raja dan para mentrinya menang dan perang tidak terjadi.

Tentunya ini membuat sang raja senang dan sangat berterimakasih kepada Bismarck. Beberapa minggu kemudian, sang raja mengangkat dia menjadi menterinya, dan beberapa tahun kemudian, dia diangkat menjadi Perdana Menteri Prussia. Dengan posisinya ini, dia akhirnya memimpin seorang raja yang baik hati dan suka damai untuk memerangi Austria dan menghancurkan kekaisaran Austria. Dan selanjutnya dia mendirikan Negara German yang sangat powerful dengan Prussia sebagai kepalanya.

 

Interpretasi.

Ketika dia berpidato pada tahun 1850, Bismarck telah melakukan beberapa perhitungan.

Pertama bahwa kekuatan militer Prussia waktu itu tidak sekuat militer negara Eropa lainnya. Jika mereka berperang, tentunya mereka kalah dan berakhir pada musibah yang sangat merusak.

Kedua, jika dia mendukung perang dan mereka kalah maka karirnya akan dibahayakan. Mengapa? Karena Sang Raja dan para mentrinya tidak ingin perang. Mereka menginginkan kedamaian dan hidup yang aman.

Maka dengan perencanaan yang matang akhirnya dia mengelabui orang dengan cara berpidato mendukung apa yang dia lawan atau tidak didukungnya selama ini. Dan karena itu, dia bisa diangkat menjadi menteri dan kemudian menjadi perdana menteri. Akhirnya dengan kekuatannya sebagai perdana menteri, dia menguatkan kekuatan militernya dan menghancurkan Austria.

Bismarck sebenarnya adalah salah satu negarawan tercerdas yang pernah ada. Dia hebat dalam strategi dan pengelabuan. Tidak ada seseorang pun yang mencurigai apa yang sedang dikejarnya.

Anggap saja, kalau sampai dia berargumentasi dengan mengungkapkan niatnya bahwa sebaiknya jangan perang sekarang dan nanti baru perang ketika militer mereka kuat, dia pasti tidak akan memenangi argument tersebut. Mengapa? Karena saat itu, para deputi dan warga Prussian menginginkan perang dan terlalu percaya diri bahwa kekuatan militer mereka lebih kuat dari militer Austria.

Bahkan jika saja dia meminta imbalan posisi menteri kepada sang raja sebagai pengganti atas jasanya mendukung pendapat sang raja, pasti sang raja meragukan ketulusan hatinya.

Dengan cara pengelabuannya, dia akhirnya berhasil mengelabui semua orang di Prussia dan mendapatkan semua yang dia inginkan. Itulah kekuatan dari menyembunyikan maksud anda.

 

Keys to power

Kebanyakan orang seperti buku yang terbuka. Mereka mengungkap segala yang mereka pikirkan dan mengatakan setiap opini mereka di setiap kesempatan. Mereka selalu mengungkapkan rencana dan niat mereka. Mereka lakukan ini karena beberapa alasan berikut yakni.

  1. Kita, manusia pada umumnya lebih mudah berbicara tentang perasaan dan rencana kita ketimbang mengontrol lidah dan memonitor setiap kata yang kita ucapkan.
  2. Kita, manusia pada umumnya percaya bahwa kejujuran dan keterbukaan dapat memenangkan hati banyak orang. Kita percaya bahwa dengan jujur dan terbuka kita bisa meyakinkan banyak orang bahwa kita adalah orang yang baik. Akan tetapi, mungkin tidak kita sadari bahwa terkadang kalau kita jujur atau bahkan terlalu terbuka, itu justru menyakitkan hati banyak orang. Dan jika kita terlalu terbuka akan rencana kita, itu hanya akan membuat gerak kita mudah diprediksi dan terlalu familiar dengan orang banyak.

Jika Anda menginginkan kekuasaan, simpanlah kejujuran baik – baik di lemari anda dan jangan bawa ke mana – mana. Dan sebagai gantinya, latih dirimu seni menyembunyikan niat.

Sebuah taktik yang cukup efektif untuk dipakai adalah berpura – pura untuk mensupport sebuah ide atau penyebab yang berlawanan dengan perasaanmu atau yang selama ini anda dukung seperti yang dilakukan oleh Bismarck di cerita sebelumnya. Ini tentunya akan mengelabui musuhmu dan memenangkan anda secara jangka panjang.

Cara lain yang tidak kalah efektifnya adalah dengan menggunakan ketulusan yang palsu. Sering orang salah mengerti ketulusan dengan kejujuran. Itulah alasannya mereka sering jatuh dengan teknik ini. Teknik ini sangat powerful. Anda bisa menggunakannya. Salah satu cara yg memanfaatkan teknik ini adalah dengan mendukung suatu posisi dengan penuh jujur. Kejujuran ini sebenarnya digunakan untuk menutupi ketidakjujuran pada posisi lainnya. Yang sering temukan di bagian politik adalah terkadang seorang politisi menutup kebobrokkannya dengan menunjukkan sesuatu yang bisa diunggulkan. Contoh: ada politisi yang muncul di kamera sebagai sosok yang sangat – sangat disiplin dan tegas. Padahal dia lakukan itu hanya untuk menutupi kebobrokkan korupsinya. Apakah Anda yang pernah merasakan ini? Atau ada politisi yang omongnya suci banget dan katanya selalu mengedepankan keberpihakan pada rakyat. Tetapi dia lakukan itu hanya untuk menutupi semua kebobrokkan dia selama ini.

Nah, itu adalah beberapa contohnya ya.

Akan tetapi, perlu juga diingat bahwa terlalu sering Anda menekankan ketulusan Anda atau ketulusan yang over itu hanya membuat orang curiga. Jadi, hati – hati dalam menggunakan teknik ini juga.

Sebagai kesimpulan: bahwa ingat! Always conceal your intentions. Sembunyikan niat – niatmu.

Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power.

Categorised in:

Comment Closed: Hukum 3 Buku The 48 Laws of Power

Sorry, comment are closed for this post.

error: Content is protected !!