Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Kami Cukup Saja Beli Handphone, Jangan Pula Beli Jaringan Internet dan Pembangkit Listrik

Kami Cukup Saja Beli Handphone, Jangan Pula Beli Jaringan Internet dan Pembangkit Listrik

(165 Views) May 4, 2020 10:51 pm | Published by | Comments Off on Kami Cukup Saja Beli Handphone, Jangan Pula Beli Jaringan Internet dan Pembangkit Listrik

KAMI CUKUP SAJA BELI HANDPHONE, JANGAN PULA BELI JARINGAN INTERNET DAN PEMBANGKIT LISTRIK


“Belajar dari COVID–19”. Sepenggal kalimat tersebut merupakan tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020 yang baru saja kita lewati peringatannya pada tanggal 02 Mei 2020. Tulisan sederhana ini, bertolak dari tema Hardiknas 2020 “Belajar dari COVID–19”.
Mengapa harus Belajar dari COVID – 19?
Kita semua tahu bagaimana dampak dari Corona Virus Disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan COVID–19 yang sangat terasa di seantero dunia termasuk Indonesia. Penyebaran virus ini sangat masif dan sangat cepat pula. Menurut organisasi kesehatan dunia atau WHO, COVID-19 menular melalui percikan yang keluar saat seseorang yang sedang terinfeksi Covid mengalami batuk, bersin atau pun sedang berbicara.
Secara global data WHO menyebutkan sampai dengan tanggal 03 Mei 2020 penyebaran COVID – 19 sudah mencapai 215 negara di dunia. Dengan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 3.356.205 dan 238.730 kasus kematian akibat virus ini. Di Indonesia sendiri sampai dengan tanggal 04 Mei 2020 tercatat 11.587 kasus terkonfirmasi positif COVID–19. Dari jumlah tersebut 1.954 dinyatakan sembuh dan 864 meninggal dunia.
Oleh karena itu sebagai langkah antisipasi untuk mencegah penyebaran Covid semakin meluas dan memakan korban, berbagai kebijakan pun ditempuh, berbagai himbauan pun dikeluarkan. Mulai dari social distancing, physical distancing, stay at home hingga kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah berjalan di beberapa daerah.
Akibat yang timbul dari penerapan kebijakan–kebijakan di atas adalah terhentinya berbagai aktivitas di luar rumah termasuk aktivitas dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Kita dihimbau untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pun mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah, pembelajaran daring atau online dan disusul dengan peniadaan Ujian Nasional (UN) untuk tahun ini.
Ini berarti kegiatan belajar mengajar yang selama ini berlangsung secara face to face atau tatap muka di kelas, diganti dengan metode pembelajaran online atau daring. Memang disadari, pembelajaran secara online merupakan alternatif yang tepat untuk melaksanakan proses pembelajaran selama masa pandemi Covid–19. Namun bagaimana dengan kesiapan insan pendidikan dalam melaksanakan proses pembelajaran online?
Model pembelajaran online yang ditawarkan oleh Kemendikbud merupakan peluang sekaligus tantangan. Melalui model pembelajaran online, masyarakat umumnya dan insan pendidikan khususnya menyadari bahwa belajar tidak harus di kelas, belajar bisa dilakukan di mana saja. Dengan metode online pun insan pendidikan belajar menguasai dan memanfaatkan teknologi modern untuk membedah banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebelumnya tidak diketahui. Karena sifat internet pada dasarnya borderless atau tanpa batas. Sekali klik langsung terbuka di layar perangkat yang ada.
Selain itu, model pembelajaran online pun ternyata menimbulkan berbagai tantangan dan hambatan yang mengajak kita untuk belajar dari COVID–19 juga. Melalui situasi pandemi Corona saat ini, kita dituntut bukan saja belajar tentang bagaimana memutus mata rantai penyebaran COVID tapi lebih dari itu, kita juga belajar untuk :
1. Belajar dari COVID-19 untuk mulai membiasakan masyarakat dan insan pendidikan dalam sistem pembelajaran online
Sejak pertama kali COVID terkonfirmasi di Indonesia, sekolah–sekolah langsung diliburkan dan ujian nasional pun ditiadakan. Sangat dipahami karena solusi ini ditempuh guna mencegah penyebaran virus ini lebih luas. Stay at home diterapkan untuk menghambat bahkan memutus rantai penyebaran COVID-19. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Namun bagaimana dengan proses pembelajaran siswa–siswi ketika diliburkan? Pembelajaran dengan metode daring atau online pun ditempuh agar proses pembelajaran tetap berjalan meskipun sisi efektifnya sangat diragukan. Karena model pembelajaran online membutuhkan pengawasan yang ketat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Diperparah lagi dengan tidak siapnya insan pendidikan dalam menjalani proses pembelajaran online terlebih di wilayah pelosok. Mengingat model pembelajaran daring merupakan model pembelajaran yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia dan sarat teknologi yang mana kita tahu belum semua kita melek teknologi.
Melalui situasi pandemi COVID–19, kita belajar membiasakan diri dengan model pembelajaran online, bila perlu sesekali diterapkan di sekolah. Dengan harapan bila situasi serupa terulang, kita tidak kaget sebaliknya terbiasa dengan proses belajar mengajar secara online.

2. Belajar dari COVID–19 untuk meningkatkan kapasitas insan pendidikan dalam penguasaan teknologi berbasis online
Model pembelajaran online merupakan model pembelajaran yang baru pertama kali diterapkan secara umum di seluruh pelosok negri. Banyak pelaku dan insan pendidikan yang belum memiliki kemampuan yang memadai dalam melaksanakan sistem pembelajaran jenis ini yang sarat akan aplikasi online. Belum lagi ditambah dengan persoalan guru, siswa dan orang tua di pedesaan yang masih gagap teknologi alias gaptek. Apalagi tenaga kependidikan generasi 70an – 80an yang berada di wilayah pelosok atau pedesaan tentu menganggap model pembelajaran online sebagai hal asing. Selain tenaga kependidikan, ada pula siswa yang kesehariannya belum terbiasa menggunakan perangkat lunak. Oleh karenanya, sudah sepatutnya pemerintah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tenaga kependidikan melalui pelatihan atau pun kursus agar mampu mengoperasi berbagai teknologi digital online sehingga tidak gaptek bila sesekali diperlukan. Sedangkan bagi para siswa mungkin dibutuhkan proses pembelajaran sedini mungkin sehubungan dengan proses pembelajaran online. Bila perlu diajarkan di sekolah sebagai sebuah mata pelajaran.

3. Belajar dari COVID–19 untuk melaksanakan pembangunan secara merata dalam berbagai bidang di seluruh pelosok negri
Model pembelajaran online pada dasarnya membutuhkan jangkauan jaringan internet yang memadai, pasokan listrik yang mencukupi. Metode ini mungkin cocok diterapkan di wilayah perkotaan. Sedangkan di pelosok desa yang belum terjangkau internet dan listrik, tidak mungkin metode pembelajaran online dapat berjalan termasuk daerah kami Nusa Tenggara Timur. Lagi pula masyarakat di desa belum semuanya memiliki fasilitas pembelajaran online seperti komputer, laptop, smartphone.
Menghadapi situasi ini, para guru terpaksa secara swadaya memperbanyak materi guna dibagikan kepada peserta didik secara door to door. Ini realitas yang terjadi di pedesaan sehubungan dengan pelaksanaan sistem pembelajaran online.
Kita belajar dari COVID–19 untuk melaksanakan pembangunan secara adil dan merata hingga ke pelosok tanah air. Sehingga tidak ada lagi kalimat “kami cukup beli handphone, jangan pula beli signal internet dan listrik”.
Belajar dari COVID–19, mari kita membangun Indonesia secara utuh dan menyeluruh dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote dalam semua bidang kehidupan sehingga bila situasi semacam ini terulang, kita semua merasa aman dan nyaman. Mari kita menjalankan sistem mitigasi bencana sedini mungkin agar bila terjadi bencana seperti COVID – 19 ini, kita tidak kelabakan melainkan dalam kondisi siap menghadapinya.
SALAM…
Penulis : Iwal Falo

Categorised in:

Comment Closed: Kami Cukup Saja Beli Handphone, Jangan Pula Beli Jaringan Internet dan Pembangkit Listrik

Sorry, comment are closed for this post.

error: Content is protected !!