Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Mendadak Jadi Guru Gara-Gara Corona

Mendadak Jadi Guru Gara-Gara Corona

(568 Views) June 12, 2020 8:41 pm | Published by | Comments Off on Mendadak Jadi Guru Gara-Gara Corona


Sejak Virus Corona – 19 menjadi pandemi global, Pemerintah Republik Indonesia merespon dengan mengeluarkan berbagai langkah antisipasi dan kebijakan yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus tersebut. Di antaranya : social distancing, physical distancing, stay at home hingga kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah.
Sama seperti daerah – daerah lain di Indonesia, di daerahku Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pun menjalankan kebijakan – kebijakan serupa guna menghambat dan menghentikan penyebaran COVID – 19. Meskipun sampai dengan saat ini daerahku TTU masih berstatus zona hijau namun tetap menjalankan kebijakan pemerintah pusat dan protokol kesehatan agar terhindar dari penularan COVID – 19.
Penerapan kebijakan – kebijakan di atas berdampak pada terhentinya aktivitas masyarakat di luar rumah. Aktivitas – aktivitas utama seperti dalam bidang ekonomi, pendidikan dan keagamaan pun hanya bisa dilakukan dari rumah. Ya, bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Menurutku, bekerja dari rumah dan beribadah dari rumah merupakan hal yang kurang membebani karena kedua kegiatan tersebut bisa dijalankan dengan mudah. Yang terasa paling berat adalah aktivitas belajar dari rumah bagi anak – anak. Mengapa? Dengan belajar dari rumah, otomatis peran guru berpindah kepada orang tua. Orang tua harus menjadi guru bagi anak dalam hal menjelaskan materi pembelajaran, mengawasi anak selama proses pembelajaran dari rumah. Tak peduli apa latar belakang pendidikan dan profesinya. Pokoknya harus bisa membantu anak dan mencari cara yang tepat agar anak dapat belajar dari rumah. Lebih repot lagi bila dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu anak sekolah. Padahal orang tua sendiri sudah memiliki banyak kegiatan yang harus dikerjakan.
Saya sendiri mengalaminya. Kami memiliki 2 (dua) orang putri yang sedang bersekolah dengan tingkat pendidikan yang berbeda – beda. Yang pertama duduk di kelas 5 SD sedangkan putri kedua sedang duduk di bangku TK.

Menjadi guru untuk putri pertamaku yang duduk di bangku SD lebih mudah ketimbang menjadi guru untuk putri keduaku yang masih TK. Lebih mudah mengajak putri pertamaku untuk belajar dan menjelaskan materi dari sekolah meskipun kadang ada rewelnya tapi paling sebentar.
Hal paling menyulitkan yang kurasakan adalah ketika membantunya menyelesaikan tugas Matematika. Maklum, basic saya bukan itu juga, ditambah lagi mata pelajaran ini merupakan mata pelajaran yang paling sulit dan membosankan bagiku selama masih sekolah. Untuk itu saya sering menghubungi tantanya/bibinya yang kebetulan mengambil jurusan Matematika ketika kuliah guna membantu menyelesaikan tugas Matematika.
Walau demikian, tidak ada kendala dan hambatan yang berarti bagiku untuk menjadi guru bagi putri pertamaku. Selain meminta bantuan dari keluarga, ada juga om Google yang selalu siap membantu.

Berbeda halnya ketika menjadi guru untuk putri keduaku yang sedang di TK. Hal ini saya rasakan sebelum mulai belajar. Mengajak anak TK agar mau belajar lebih rumit dari pada mengajak anak SD, mengajak anak TK untuk mau belajar lebih rumit dari materi pembelajaran itu sendiri. Apalagi ketika dia sedang asyik bermain atau menonton televisi.
Berbagai cara harus ditempuh untuk merayu atau membujuk anak TK agar mau belajar. Kadang sampai menyerah dan tidak mau mengajaknya untuk belajar lagi hingga mengancam untuk mengulang di TK bila malas belajar, hehehehe.
Artinya mengajak anak TK untuk belajar lebih rumit dari materi itu sendiri dan memakan waktu berjam – jam hingga dia mau untuk mengerjakan tugasnya. Saat dia sudah memiliki kemauan untuk belajar, saya harus memulainya dengan latihan awal sebelum divideo dan difoto untuk dikirim ke Whatsapp grup Bimbel TK. Itu merupakan pengalaman buruk yang saya alami selama 3 (tiga) bulan lebih menjadi guru bagi anak sendiri. Walaupun begitu, sebagai orang tua harus tetap sabar, tekun, semangat dalam membimbing agar anak mau belajar.
Hal lain yang turut mempengaruhi turunnya minat belajar anak adalah kelamaan stay at home, rindu ke sekolah, rindu bertemu teman – teman. Lebih gawat lagi bila anak tidak mau atau ngambek saat akan belajar karena dia tahu bahwa yang mengajari, mendampingi dan mengawasinya adalah orang tuanya yang mendadak jadi guru karena corona.
Selain sisi negatif di atas, ada pula sisi positif ketika menjadi guru untuk anak sendiri selama proses pembelajaran berlangsung dari rumah yakni : setiap pagi orang tua tidak direpotkan dengan mempersiapkan anak ke sekolah, pengeluaran untuk jajan di sekolah menjadi nol rupiah. Selain itu dengan belajar bersama anak, orang tua dapat mengetahui kemampuan anak dalam penguasaan materi pembelajaran. Sisi positif lainnya, saat anak mengerjakan tugas dengan baik dan benar, sebagai orang tua ada perasaan puas dan bangga atas hasil kerja si anak.
Rupanya setiap orang tua perlu menyadari sepenuhnya apa yang pernah diutarakan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. Pendidikan tak berhenti di bangunan sekolah saja, tapi juga di rumah, di jalan dan di mana – mana”. Demikian pula dalam diri anak – anak perlu ditanamkan semangat untuk menjadi guru dan belajar di mana saja, belajar tidak harus di sekolah.
Saat ini, kita telah memasuki era Kenormalan Baru atau bahasa kerennya New Normal yang pada prinsipnya mengharapkan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan Corona. Kita berharap, semoga kita masyarakat Indonesia dapat beraktivitas kembali seperti sebelum pandemi COVID dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dan anjuran dari pemerintah agar mata rantai penularan Corona dapat dikendalikan.
SALAM…

Penulis : Iwal Falo

Categorised in:

Comment Closed: Mendadak Jadi Guru Gara-Gara Corona

Sorry, comment are closed for this post.

error: Content is protected !!