Menu Click to open Menus
Home » Uncategorized » Semua Tentangmu Adikku Bonefasius Falo

Semua Tentangmu Adikku Bonefasius Falo

(385 Views) May 9, 2020 1:48 pm | Published by | Comments Off on Semua Tentangmu Adikku Bonefasius Falo

SEMUA TENTANGMU ADIKKU BONEFASIUS FALO

Halo Sobat RBA100, di mana saja berada…
Melalui artikel sederhana ini, bertepatan dengan HUT Kelahiran Boni Falo, saya Iwal Falo, Kakak dari Boni Falo, ingin mengisahkan perjalanan dan perjuangan Boni Falo hingga akhirnya berhasil mendirikan usaha sendiri.

Kami terlahir dari pasangan Bapak Frans Borgias Falo dan Mama Hermina Kaba sebagai 7 (tujuh) bersaudara secara berturut – turut sebagai berikut : Fredirikus Falo (alm). Fredi meninggal sejak masih berusia 2 (dua) tahun. Disusul saya Iwal Falo, Sifa Falo, Mia Falo, Selfi Falo, Boni Falo dan Erti Falo. Dari 6 (enam) bersaudara, satu di antaranya cukup menarik perhatian untuk diketahui rekam jejak dan latar belakang hidupnya hingga bisa hidup mandiri. Dia adalah Bonefasius Falo yang akrab disapa Boni Falo anak ke – 6 dari 7 bersaudara.

Di masa kecilnya, Boni kami kenal sebagai seorang anak dan adik yang benar – benar memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda dari kami yang lain. Memiliki kemauan yang keras, kerja keras, perhitungan yang tepat, disiplin tinggi. Apa yang dia makan pun berbeda dari kami. Sayuran yang paling tidak disukai semasa kecil adalah pepaya (daun, bunga dan buah) karena menurutnya sangat pahit. Sehingga jika mama menyediakan makanan dengan sayur pepaya, dia akan merengek –rengek dan meminta sayur lain yang penting bukan pepaya.
Makanan kesukaannya adalah ikan terutama kepala ikan apa saja pasti dihabisi. Selain itu minyak ikan juga menjadi kesukaannya. Suatu hari sehabis menggoreng ikan, kami pun rebutan minyak ikan untuk ditaburi di atas nasi. Si Boni kecil jika tidak kebagian maka tangisan pun pecah di dalam rumah. Mama pun berkata, kalian sudah besar, berikan saja pada adikmu. Mungkin akibat konsumsi ikan yang tinggi, menjadikan dia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas.
Sejak kecil buku apa saja dibaca hingga selesai, terlebih buku tentang ilmu pengetahuan atau sains. Guru – gurunya di SDK Manamas dan SMP Manamas pun menuturkan bahwa Boni, anak yang pintar, cerdas maka dia harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Suatu ketika sebagai kakak, saya bertanya : “Boni, apa cita – citamu”. Katanya : “saya mau jadi dokter”. Hhhmmmm.
Sebagai anak dari orang tua petani di desa, kebiasaan kami setiap hari setelah pulang sekolah adalah mengikuti orang tua entah untuk bertani dan berkebun maupun untuk mengurus hewan peliharaan seperti sapi, babi, ayam dan itik (bebek). Terlebih pada hari libur. Orang tua kami Bapak Frans dan Mama Hermina dikenal memiliki sebuah usaha kios sembako serta memiliki sapi dalam jumlah yang lumayan banyak. Boleh dibilang kami tergolong mempunyai sapi terbanyak di Desa Manamas. Semua itu diperoleh dari hasil kerja keras bapak dan mama bukan harta warisan atau pun bantuan sosial.

Menginjak usia remaja, menjelang akhir pendidikan di SMP, saya bertanya kepadanya : Boni, sebentar lagi kamu akan tamat SMP. Kamu mau lanjut studi ke mana? Dia menjawab : saya mau sekolah di Seminari Lalian untuk menjadi calon imam sehingga kelak bisa menjadi seorang imam Katolik (biarawan). Sebagai kakak yang juga pernah mengeyam pendidikan di Seminari Lalian, saya mengiyakan dan meyakinkan bapak – mama bahwa Boni mau sekolah di Seminari Lalian.
Menurut saya, pilihannya tepat karena sekolah di seminari akan membentuk dia dari sisi moral dan disiplin maupun pengetahuan secara akademis. Saya sudah gagal menjadi seorang imam, biar dia menggantikan saya, mungkin Tuhan berkenan memilih dia, kataku kepada bapak dan mama.

Saya bersama bapak – mama dan Boni berangkat ke Seminari Lalian – Atambua untuk mengantar Boni melanjutkan pendidikan di sekolah calon imam itu. Suatu ketika dia berujar kepada saya : No, teman – teman kelas saya mengajak saya untuk meninggalkan seminari karena mereka tidak tahan dengan aturan yang diterapkan di seminari. Saya pun balas menjawab : jadi kamu mau pindah sekolah? Tidak, saya mau tetap di seminari hingga selesai. Dengan nada ancaman, saya mengatakan : jika kamu kabur dari seminari maka saya tidak akan urus kamu lagi.
Semua proses pendidikan di seminari pun dia lewati dengan baik. Boni pun berhasil menyesuaikan diri dan menyelesaikan pendidikan di Seminari Lalian dengan hasil yang luar biasa secara akademis.
Sebelumnya, menjelang ujian akhir di seminari biasanya seorang calon imam diminta untuk memutuskan ordo atau serikat yang akan dipilih untuk melanjutkan studi sebagai calon imam. Dan Boni memilih untuk melanjutkan studi sebagai seorang calon imam di biara Scholapio Philipina. Sebagai orang tua dan kakak, saya bersama bapak – mama dan keluarga besar sangat mendukung dengan dasar pemikiran bahwa jika Boni melanjutkan studi di luar negri, wawasannya lebih bagus, kualitasnya pun pasti bagus dan harapan untuk menjadi imam pasti tercapai. Saya pun mengantar dia ke Kupang untuk selanjutnya terbang ke Jakarta lalu ke Philipina.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun pun berlalu. Studinya di Philipina pun berjalan lancar tanpa hambatan menurut cerita para pembinanya di Philipina yang sering berkomunikasi dengan saya via e-mail. Sampailah pada saat yang membuat saya dan orang tua kecewa. Selama mengeyam pendidikan di Philipina rupanya tujuan utama menjadi calon imam pun berubah. Secara diam – diam dia memutuskan untuk menjadi orang awam bukan lagi menjadi imam.
Suatu hari (lupa tanggal pastinya), Saya dikejutkan dengan sebuah kabar yang menurut saya buruk. Boni menelpon dan berkata : No, saya sedang berkemas untuk pulang ke Indonesia. Saya sudah memutuskan untuk tidak menjadi calon imam lagi. Seketika, saya langsung putuskan sambungan handphone sekaligus non aktif HP. Dia tahu, saya marah dan kecewa dengan keputusannya. Hingga beberapa saat lamanya, saya tidak mau berbicara dengan Boni.
Keesokan harinya, handphone berdering lagi, panggilan dari Boni. Katanya : saya sudah sampai Jakarta. Jawaban saya singkat : okey, lanjut ke kampung. Tapi jawabannya : tidak, saya mau merantau di Jakarta. Bagaimana mau hidup di Jakarta tanpa pekerjaan, tanpa uang, tanpa tempat tinggal? Mau makan apa? Saya bertanya dengan nada marah. Akan saya usahakan sendiri, jawabnya. Caranya? Saya akan kerja apa saja, yang penting hidup.
Boni sudah sampai Jakarta namun saya masih saja kecewa dengan keputusannya itu. Akhirnya bapak dan mama menyadarkan saya bahwa dia itu adikmu. Sudahlah kalau dia putuskan begitu, mau bagaimana lagi. Masih ada jalan lain. Telpon dan suruh dia pulang kampung dari pada kelaparan di Jakarta, sambung bapak dan mama. Tetapi namanya Boni tidak mau mengalah dengan situasi, meskipun situasi kehidupan di Jakarta sangat keras, dia tidak mundur sedikit pun.
Hidup di Jakarta tanpa uang, tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal menjadi tantangan yang sangat berat. Sering Boni telpon dan curhat bahwa dia tidak ada makanan, tidak punya duit dan lain – lain. Kadang hanya makan daun pepaya menjadi kisah awal Boni memulai hidup baru di Jakarta. Makanan yang dulunya tidak disukai, saat ini menjadi pilihan terakhir untuk bertahan hidup. Dia menangis di Jakarta, saya pun menangis di Kefamenanu membayangkan itu semua. Saya lebih marah lagi ketika disuruh pulang kampung pun dia menolak. Biar saya merantau saja No. Kalau ada uang sedikit kirim buat saya untuk bertahan sambil mencari kerja di Jakarta. Berbagai cara ditempuh untuk bisa menyambung hidup. Bekerja di warung makan sebagai pencuci piring pun dilakoni untuk hidup di ibu kota RI.
Itulah Boni, pekerja keras, suka tantangan, berjuang tanpa lelah, berjuang dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Dalam situasi keterpurukannya itu, dia berusaha membaca banyak buku seputar bisnis dan usaha. Dia juga membaca banyak buku seputar Filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan digunakan dalam menjalankan usaha.
Alhasil, dengan modal seadanya dan pengetahuan yang memadai akhirnya dia memulai usahanya membuka kursus belajar Bahasa Inggris yang saat ini dikenal dengan KOMUNITAS KURSUS BAHASA INGGRIS RUMAH BELAJAR AHUNDRED/RBA100. Setelah sukses menjalankan usaha kursus Bahasa Inggris, dia pun mendirikan sebuah PT untuk menaungi usaha – usaha yang sedang dijalankan. Nama perseroan itu adalah PT TUA FALO MEMBANGUN.
Saat ini berkat usaha yang dijalankan, banyak orang dari Sabang sampai Merauke telah terbantu untuk mempelajari dan menguasai Bahasa Inggris sebagai bekal untuk berkompetisi dalam persaingan global. Dari usaha yang dijalankan pun Boni telah berhasil mendanai dan menopang keluarga dari segi finansial.

Bapak – Mama, Saya dan keluarga umumnya “we proud of you, Boni”. Kamu telah membayar lunas kekecewaan keluarga akibat gagal menjadi seorang imam. Kamu adalah harapan baru.
Akhir kata, Terima Kasih kepada Bapak – Mama Tercinta yang telah membesarkan kita 6 (enam) bersaudara dengan penuh cinta dan kasih. Terima kasih pula kepada semua orang, semua pihak yang dengan caranya masing – masing telah membantu dan mendukung kelancaran usahamu.
Bapak – mama, saya, semua saudara dan saudari, semua keponakan dan keluarga umumnya mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN KELAHIRAN UNTUKMU. TUHAN MENYERTAIMU DALAM MENJALANKAN USAHA DAN KARYAMU. KAMI MENDUKUNG PENUH SEMUA USAHAMU. TETAPLAH MENJADI DIRI SENDIRI DAN BERGUNA BAGI SEMUA ORANG…
SALAM…

Penulis : Iwal Falo

Categorised in:

Comment Closed: Semua Tentangmu Adikku Bonefasius Falo

Sorry, comment are closed for this post.

error: Content is protected !!